Archive | Yuries Saputra RSS feed for this section

Sungguh Sedikit Waktu

8 Mar

Saya kutip kisah berharga ini dari buku The Maxwell Daily Reader karangan John C. Maxwell.

Sahabat saya, Dwight Bain mengirim cerita tentang seorang operator radio amatir yang tanpa sengaja mendengar percakapan seorang laki-laki tua yang sedang menasihati seorang pria muda.

“Sayang sekali kau harus menginggalkan rumah sesering itu,” katanya. “Izinkan aku memberitahukan sesuatu yang telah membantuku membuat perspektif yang baik atas prioritasku. Begini, suatu hari aku duduk santai dan iseng-iseng dan mulai menghitung-hitung. Usia rata-rata orang sekitar 75 tahun. Nah, aku mengalikan 75 kali 52, dan mendapatkan angka 3.900, yakni jumlah hari Sabtu yang dimiliki rata-rata orang dalam masa hidupnya”.

“Baru setelah mencapai umur 55 tahunlah aku mulai memikirkan semua ini secara terinci,” ia melanjutkan, “dan ketika itu aku sudah melewati 2.800 hari Sabtu. Aku mulai berpikir kalau saja aku bisa mencapai umur 75 tahun, aku hanya memiliki sekitar 1.000 hari Sabtu lagi untuk dinikmati.”

Ia menjelaskan bahwa ia telah membeli 1.000 kelereng serta menyimpannya di dalam wadah plastik dan meletakkannya di tempat kerja favoritnya di rumah. “Sejak itu, setiap Sabtu,” ia berkata, “Aku mengambil satu butir kelereng dan membuangnya. Aku mendapati bahwa dengan memperhatikan kelereng yang semakin berkurang jumlahnya itu, aku dapat berfokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupan. Tidak ada cara lebih baik dari pada melihat waktumu di bumi ini semakin habis untuk meluruskan prioritasmu”.

Kemudian orang tua itu mengakhiri kisahnya, “Sekarang izinkan aku menceritakan satu pemikiran terakhir sebelum pergi dan mengajak isteriku tercinta keluar untuk sarapan. Pagi ini aku telah mengambil kelereng terakhir dari penyimpanannya. Aku pikir, jika aku bisa tetap hidup sampai hari Sabtu depan, artinya aku telah diberi sedikit waktu ekstra”.

Kita tidak bisa memilih apakah kita masih akan diberi waktu lagi, tetapi kita bisa memilih apa yang kita lakukan dengan waktu itu.

***

Setelah membacanya di dalam buku itu, saya teringat bagaimana sahabat-sahabat saya di Jogja memaknai hal serupa dan bagaimana mereka berusaha mengingatkan orang lain. Di hampir setiap tahun di mana bertepatan dengan tanggal lahir salah satu teman kami, saya dan sahabat-sahabat saya tidak pernah mengatakan padanya ‘Selamat ulang tahun ya dan selamat karena umurmu hari ini telah bertambah’. Yang kami katakan adalah, hari ini umurmu semakin berkurang saja. Kamu semakin dekat dengan detik terakhirmu di dunia ini, semoga kamu bisa mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya ya. Semoga Allah selalu menjagamu, keluargamu dan indahnya cita-citamu.

Sekalipun saya sudah berusaha memaknainya setiap tahun, tetap saja saya iri hati dengan pengakuan laki-laki tua yang dikisahkan oleh Maxwell. Setiap akhir pekan dia selalu bisa memaknainya meski bukan seorang Muslim. Sebaliknya kita yang umat Muslim, masih begitu suka memicingkan mata terhadap nikmat waktu yang telah Allah berikan. Benar ceramah-ceramah yang selalu dilontarkan sebelum Shalat Jum’at. Waktu menjadi nikmat kedua yang sering manusia dustakan disamping kesehatannya. Saya maupun Anda barangkali masih senang memakai waktu dengan hal-hal tak berarti. Bahkan sampai membanggakan banyaknya waktu luang yang bisa kita pakai untuk tidur, melihat siaran di televisi atau memainkan gadget. Sungguh sedikit waktu terpakai untuk meraih mimpi, apalagi memakmurkan Masjid. Seakan dunia ini telah merampas hidup yang kita punya. Tidak tersisa kecuali otak yang usang karena tak pernah dipakai.

Cobalah mengerti keadaan ini. Ego ini harus segera diakhiri. Beranjaknya dewasa pemikiran kita semestinya sanggup melihat dunia dengan cara yang baru. Ingat selalu pesan orang-orang hebat, “Jangan menjadi orang yang konsumtif.” Barangkali inilah kredo yang masih terdengar merdu untuk kita yang hidup di abad dua puluh satu. Di mana hari ini free-market tengah menjajahi kota bahkan juga hingga ke desa, nafsu mahabesar pemain bisnis untuk merajai dunia, sistem demokrasi yang sulit sekali dikendalikan, dan kondisi pendidikan karakter yang begitu jauh dari realita. Semua itulah penyebab external dan pengancam budaya umat Islam di dunia bagian manapun.

Maka sikap yang paling tepat untuk menghadapi kondisi itu adalah dengan melakukan proses self-protect, perlindungan yang penuh pada diri sendiri. Karena tak lagi ada yang lebih peduli dengan diri kita selain diri kita sendiri. Dan terkait nikmat waktu yang sering terlupa itu, sepaham Saya yang menyebabkannya cukup dengan satu hal saja, yaitu diri kita sendiri. Sejauh kita bisa menjaga ego serta mengendalikannya dengan baik, no problem, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menuntun kita untuk melakukan self-protect itu. Pelajarilah.

Ditulis oleh      : Yuries Saputra

Advertisements

Menemukan Berkah dengan Networking (1)

6 Mar

Dalam pemaknaan para usahawan tentang networking, networking menempati peranan penting untuk kemajuan bisnis. Semakin banyak network yang dimiliki perusahaan, semakin berjaya pula bisnisnya. begitu sederhananya. Lantas tahukah kau apa itu network? #BikinSimpelAja, ia tersusun dari dua bilah kata. Net dan work, jaringan dan kerja. Agar usahamu sukses, kau harus mempunyai jaringan kerja. Jika ingin lebih sukses lagi, jaringan kerjamu pun harus lebih besar.

Sore itu sungguh tak terduga. Allah berikan saya kesempatan untuk bersua dengan seorang pengusaha kaya di UGM dan kini kami berteman akrab. Ia bercerita mengenai network yang dimiliki Yahudi untuk mencengkeram dunia ini. “Sebetulnya mudah,“ katanya menjelaskan. “Bagi Yahudi untuk membuat krisis keuangan dunia, tinggal mereka gerakkan network yang dimilikinya yang ada di setiap Negara, sudah akan terjadi krisis keuangan global. Harga-harga dimahalkan, pemerintah-pemerintah disuruh membuat kebijakan yang memberatkan rakyat, kekacauan-kekacauan dimunculkan. Itu sangat mudah bagi mereka.”

Network juga yang membuat seorang pemerintah tak becus dipilih oleh rakyat. Bayangkan ini. Anda tinggal di Jogja sebagai seorang pengusaha kaya. Anda pun memiliki kawan-kawan yang sama seperti Anda, kaya dan juga bertempat tinggal di Jogja. Yang lebih menarik, ternyata Anda dan kawan-kawan Anda itulah yang hari ini mengusai wilayah Jogja. Sangat mudah membuat Jogja menjadi seperti yang Anda inginkan. Itu karena Anda dan kawan-kawan Anda punya uang. Memerintah pemerintah juga bisa. Njaluk bayar piro? Beres. Jika begini keadaannya, bisakah Anda membuat seseorang yang Anda pilih, untuk menjadi walikota Jogja pada pemilu yang akan datang? Mudah.

Cukup Anda kumpulkan kawan-kawan Anda itu dalam satu tempat. Kemudian Anda minta mereka untuk memenangkan si A di pemilu yang akan dilakukan dua tahun lagi. Di tempat itu, kira-kira ada seratus orang pengusaha dan itu adalah kawan sejati Anda semua. Duitnya turah-turah. Maka mudah sekali bukan, setiap kawan Anda memberikan trilyunan rupiah untuk kesuksesan si calon? Nah, untuk apa uang itu? Bisa saja untuk membayar tokoh-tokoh masyarakat supaya ikut menyukseskan kampanye. Membayar konser musik, membayar pentas seni, membayar merchandise, membayar bendera partai, dan lain sebagainya. Bahkan gampang bagi mereka meminta seluruh karyawan di perusahaannya untuk memilih calon itu.

Kembali pada Yahudi yang memiliki network di setiap negara. Jangankan untuk menyukseskan presiden bernama J di negara N, merusak moral manusia pun sangat mudah mereka lakukan. Bukankah mereka punya jaringan yang bergerak di industri perfilman? Tinggal mereka gerakkan jaringannya itu untuk membuat film-film berbau SARA dan pornografi, beres kan? Mereka punya relasi yang bergerak di bidang fesyen. Tak sulit juga meminta relasinya ini membuat fesyen-fesyen yang bertentangan dengan Islam. Adapun mereka punya network di bidang medis. Minta saja menciptakan virus-virus untuk merusak kesehatan masyarakat. Virus flu babi, flu burung, imunisasi, itu apa kalau bukan ciptaan manusia? Tapi sayang sekali ilmu penting yang disebut networking” justru lebih banyak diamalkan oleh orang-orang yang jahat. Sehingga wajar kalau semuanya didedikasikan untuk tindak kejahatan, Hari ini saya mengajak Anda untuk mengubah keadaan yang ada. Mari kita ubah dunia.

***

Bagi yang baru mengenal pentingnya network, mungkin dia dikejutkan dengan kenyataan bahwa semua itu tak serta-merta bisa dilakukan dengan mudah. Untuk berkenalan dengan orang lain yang sedang duduk di samping Anda saja, Anda sudah merasa sulitnya minta ampun, bagaimana pula untuk melakukan yang lebih dari itu? Itulah sebabnya di sini saya ingin berbagi tips-tips yang mungkin bisa membantu Anda untuk lebih mudah memulainya. Bagaimana agar Anda menjadi seorang remaja/pemuda masjid yang pandai dalam membangun network berskala nasional bahkan hingga global? Anda bisa memiliki jaringan tak sebatas di Indonesia saja.

…… bersambung.

 

Ditulis oleh : Yuries Saputra

Seperti Saat Pertama

3 Mar

Malam itu Saya dan kawan-kawan duduk melingkar bersama dengan seorang guru besar. Bahagianya Saya karena mendapatkan undangan untuk duduk di sana. Karena biasanya Saya hanya cukup dengan mengikuti seminar maupun kajiannya saja, di mana beliau yang menjadi pemateri di situ. Dalam skala yang besar tentu saja. Tapi malam itu cukup dengan beberapa orang saja. Maka Saya ikuti ta’lim ini dengan penuh perhatian. Sayup. Hati dan pikiran Saya tulus mendengarkan taushiyah darinya. Ustadz Solikhin, barangkali Anda tak asing dengan nama itu. Itulah guru besar yang Saya maksudkan tadi, beliau pun seorang penulis di mana buku-buku karangannya banyak beredar di masyarakat luas. Biasanya tentang motivasi Islam.

Banyak kebaikan Saya peroleh dari lingkaran ta’lim saat itu, dan izinkan Saya untuk menuliskan satu hal saja yang menurut Saya paling menawan dari semua yang beliau sampaikan. Bahwa sesungguhnya, jelas Ustadz Solikhin Abu Izzudin, semua hal yang ada di dunia sejatinya hanyalah fasilitas-fasilitas milik Allah yang dipinjamkan kepada manusia. Maka semua ini ibarat sebuah gelas bersih yang dipinjamkan oleh seorang kawan. Karena kita membutuhkannya. Sudah menjadi kewajiban, nanti jika kita telah selesai memakai gelas itu, ia harus dikembalikan dalam keadaan seperti semulanya. Bersih, tanpa noda. Tetapi kita bebas, setelah mendapatkan pinjaman gelas itu akan kita pakai untuk apa. Untuk minum, untuk makan, untuk hiasan rumah, dan lain sebagainya. Itu terserah. Kita merdeka menggunakan gelas itu. Yang jelas kembali dalam keadaan bersih.

Seharusnya kita paham, bahwa sesudah kita kotori gelas itu, kita perlu sabun dan air untuk membersihkannya. Jadi si pemilik akan gembira atau minimal tidak marah bersebabkan gelasnya tetap kembali dalam keadaan besih. Secara tidak langsung, kita sebetulnya sudah dianggapnya seorang kawan yang amanah, dapat dipercaya. Maka gelasnya itu no problem dipinjam. Tetapi jika tidak demikian? Kita kembalikan gelas itu dengan keadaannya yang masih kotor. Apa yang si pemilik rasakan? Logikanya sih akan ada rasa marah sekalipun tetap diterima. Karena ia harus membersihkan lagi gelas kotor itu, padahal kemarin sangat bersih sebelum dipinjamkan. “Sudah dipinjami tapi tidak kembali dengan bersih!!” mungkin begitu geramnya dalam hati. Sungguh begitulah Allah ketika meminjamkan tubuh beserta isinya. Semua itu harus kembali dengan keadaan yang bersih, karena kita pun dilahirkan juga dalam keadaan bersih. Bayi. Surga adalah tempat asalnya.

Nah, kita bukankah suka lupa soal hal itu? Astaghfirullah. Padahal banyak ayat Al-Qur’an berbunyi bahwa Allah lah sebaik-baik tempat kembali. Kita sering membacanya. Kita sering mendengarkannya. Maka kelak, barangkali Allah akan merasa terpaksa ketika harus membersihkan kembali gelas kotor itu, diri kita yang kotor itu. Dahulu bersih tetapi mengapa kini kotor? Aduhai, bagi Allah, sabun dan airnya tentunya terbuat dari air dan api panas neraka. Agar ia kembali bersih, dan bisa segera ditaruh di tempat semulanya; Surga. Maka seseorang perlu memasuki Neraka dahulu untuk membersihkan diri. Tapi na’udzubillah, semoga kita tidak merasakan nerakaNya sedikitpun.

Kemudian ada perkara tentang tingkat kekotoran manusia yang harus Allah bersihkan. Jika kotorannya sedikit, membersihkannya pun lebih ringan. Jika kotorannya banyak dan susah dihilangkan, maka perlu proses pembersihan yang ekstra dan mungkin waktunya jauh lebih lama. Namun apabila gelas itu kembali dalam keadaan pecah atau rusak? Pastinya dibuang bukan? Takkan pernah lagi ia ditaruh di tempat semulanya, selama-lamanya tidak, itulah balasan bagi orang-orang kafir dan mereka yang menyekutukan Allah.

***

Aduhai ternyata, kebersamaan Saya dengan beliau guru besar waktu itu cukup dengan enampuluh menit saja. Karena Saya harus menjemput kakak Saya tepat pukul 9 malam, sekalipun belum selesai taushiyah dari beliau. Berat hati Saya tinggalkan kajian kecil itu. Saya berharap masih ada kesempatan selanjutnya untuk bertemu lagi dengan beliau. Saya mulai menaiki motor, Saya lihat jam di handphone, dan.., Astaghfirullah…! Jam sembilan lebih! Saya terlambat jemput! Sesegera mungkin Saya harus sampai. Di jalanan Kota Jogja yang cukup padat itu, di bawah temaram lampu kota yang indah, langsung saja Saya kebut motor matic Saya hingga 90 km/jam. Satu demi satu motor Saya salip. Sesekali dua kali terpaksa harus Saya pencet tombol klakson, menghendaki supaya pengguna jalan lain di depan Saya memberikan kesempatan untuk Saya mendahului. Sedikit tak peduli, kembali Saya lesatkan motor setelah jalan di depan mulai terbuka. Alam yang dingin dan berdebu mulai Saya rasakan.

Biarlah, selama tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan yang lain, mengebut tidaklah mengapa. Toh hanya sesekali dan keadaannya memang mendesak. Tak pernah Saya duga, di tengah perjalanan Saya menjemput Sang Kakak waktu itu, muncullah seseorang dari belakang Saya –Saya melihatnya dari spion- yang juga memacu kendaraannya dengan sangat kencang. Wuuuusssss! Saya taksir mencapai lebih dari 90 km/jam. Saya tersalip begitu saja. Karena saat itu di depan sana Saya melihat rambu-rambu sedang bewarna merah, maka Saya mulai kurangi kecepatan dari jarak yang cukup berjarak dari rambu-rambu itu, maksud Saya untuk persiapan berhenti.

Akan tetapi pengendara ngebut tadi tetap saja full-speed dan baru berhenti mendadak di atas garis zebracross di bawah sang rambu-rambu. Tepat di sana, dengan pemberhentian yang sangat tiba-tiba. Maka suara gesekan keras antara ban motornya dengan aspal pun keluar begitu saja. Ciiiiittttt… Penasaran, para pengguna jalan lain pun ingin tahu dari mana sumbernya. Walah, anak muda yang suka kebut-kebutan ternyata… Mungkin begitu batin mereka. Dari sana Saya menemukan alibi. Walau ia tidak mengatakan apapun, seorang lelaki semacam dia, yang suka ngebut dan cenderung berpenampilan seperti preman, pasti tergoda jika melihat ada orang lain yang mengebut di hadapannya. Sejurus kemudian Saya menyadari, orang itu telah mengajak Saya balapan.

“Okey,” ucap Saya dalam hati. Saya terima tantangan itu. Tapi maaf kalau tidak bisa lama-lama melayani Anda. Kalau sudah sampai tempat di mana Saya harus menjemput kakak, Saya akan berhenti. Semoga Anda paham dengan maksud Saya ini. Setelah cahaya hijau rambu-rambu di hadapan Saya benar-benar menyala, Saya kembali menancapkan lagi gas motor Saya. Weesssss… 40, 50, 60, 70, 80, dan betul ia pun ikut menancapkan gas motornya. Di tengah sengitnya balapan amatir itu, Saya melihat bahwa ia menyempatkan diri untuk melihat siapa lawan balapannya ini dengan tatapan sinis, dan kemudian ia kebutkan lagi motornya. Semakin kencang, semakin tak terkendali. Alibi yang kedua ternyata bisa kembali Saya temukan. Bahwa selain ia memang menantang Saya untuk berbalap, dengan PDnya, rupanya ia ingin juga mengatakan pada Saya begini: ‘Beginilah cara pembalap terkenal itu beraksi’. Ia lihat Saya dan kemudian kembali memalingkan wajahnya memberikan arti seperti itu. Kini Saya rasakan ia benar-benar ingin meremehkan kemampuan Saya berbalap, mengertikah Anda Kawan? Tetapi Saya tak peduli. Benar-benar tidak peduli.

Nanti, sesudah Saya dan kakak Saya sampai di rumah, di kamar, Saya beristighfar pada Allah. Berulangkali Saya mohon maaf atas perbuatan Saya di jalanan tadi. Yang pertama sebab sudah mengebut kencang di jalanan yang padat –karena itu kemungkinan besar mengganggu orang lain, yang kedua karena mau melayani orang yang terlihat mabuk, dan yang ketiga karena sebetulnya Saya telah membahayakan keselamatan diri Saya sendiri. Selain itu Saya bersyukur, Allah tetap memberikan Saya keselamatan sehingga tetap dapat berkumpul dengan keluarga di rumah. I love you; my mom, my sister, and my brother…

Ditulis oleh: Yuries Saputra