Seperti Saat Pertama

3 Mar

Malam itu Saya dan kawan-kawan duduk melingkar bersama dengan seorang guru besar. Bahagianya Saya karena mendapatkan undangan untuk duduk di sana. Karena biasanya Saya hanya cukup dengan mengikuti seminar maupun kajiannya saja, di mana beliau yang menjadi pemateri di situ. Dalam skala yang besar tentu saja. Tapi malam itu cukup dengan beberapa orang saja. Maka Saya ikuti ta’lim ini dengan penuh perhatian. Sayup. Hati dan pikiran Saya tulus mendengarkan taushiyah darinya. Ustadz Solikhin, barangkali Anda tak asing dengan nama itu. Itulah guru besar yang Saya maksudkan tadi, beliau pun seorang penulis di mana buku-buku karangannya banyak beredar di masyarakat luas. Biasanya tentang motivasi Islam.

Banyak kebaikan Saya peroleh dari lingkaran ta’lim saat itu, dan izinkan Saya untuk menuliskan satu hal saja yang menurut Saya paling menawan dari semua yang beliau sampaikan. Bahwa sesungguhnya, jelas Ustadz Solikhin Abu Izzudin, semua hal yang ada di dunia sejatinya hanyalah fasilitas-fasilitas milik Allah yang dipinjamkan kepada manusia. Maka semua ini ibarat sebuah gelas bersih yang dipinjamkan oleh seorang kawan. Karena kita membutuhkannya. Sudah menjadi kewajiban, nanti jika kita telah selesai memakai gelas itu, ia harus dikembalikan dalam keadaan seperti semulanya. Bersih, tanpa noda. Tetapi kita bebas, setelah mendapatkan pinjaman gelas itu akan kita pakai untuk apa. Untuk minum, untuk makan, untuk hiasan rumah, dan lain sebagainya. Itu terserah. Kita merdeka menggunakan gelas itu. Yang jelas kembali dalam keadaan bersih.

Seharusnya kita paham, bahwa sesudah kita kotori gelas itu, kita perlu sabun dan air untuk membersihkannya. Jadi si pemilik akan gembira atau minimal tidak marah bersebabkan gelasnya tetap kembali dalam keadaan besih. Secara tidak langsung, kita sebetulnya sudah dianggapnya seorang kawan yang amanah, dapat dipercaya. Maka gelasnya itu no problem dipinjam. Tetapi jika tidak demikian? Kita kembalikan gelas itu dengan keadaannya yang masih kotor. Apa yang si pemilik rasakan? Logikanya sih akan ada rasa marah sekalipun tetap diterima. Karena ia harus membersihkan lagi gelas kotor itu, padahal kemarin sangat bersih sebelum dipinjamkan. “Sudah dipinjami tapi tidak kembali dengan bersih!!” mungkin begitu geramnya dalam hati. Sungguh begitulah Allah ketika meminjamkan tubuh beserta isinya. Semua itu harus kembali dengan keadaan yang bersih, karena kita pun dilahirkan juga dalam keadaan bersih. Bayi. Surga adalah tempat asalnya.

Nah, kita bukankah suka lupa soal hal itu? Astaghfirullah. Padahal banyak ayat Al-Qur’an berbunyi bahwa Allah lah sebaik-baik tempat kembali. Kita sering membacanya. Kita sering mendengarkannya. Maka kelak, barangkali Allah akan merasa terpaksa ketika harus membersihkan kembali gelas kotor itu, diri kita yang kotor itu. Dahulu bersih tetapi mengapa kini kotor? Aduhai, bagi Allah, sabun dan airnya tentunya terbuat dari air dan api panas neraka. Agar ia kembali bersih, dan bisa segera ditaruh di tempat semulanya; Surga. Maka seseorang perlu memasuki Neraka dahulu untuk membersihkan diri. Tapi na’udzubillah, semoga kita tidak merasakan nerakaNya sedikitpun.

Kemudian ada perkara tentang tingkat kekotoran manusia yang harus Allah bersihkan. Jika kotorannya sedikit, membersihkannya pun lebih ringan. Jika kotorannya banyak dan susah dihilangkan, maka perlu proses pembersihan yang ekstra dan mungkin waktunya jauh lebih lama. Namun apabila gelas itu kembali dalam keadaan pecah atau rusak? Pastinya dibuang bukan? Takkan pernah lagi ia ditaruh di tempat semulanya, selama-lamanya tidak, itulah balasan bagi orang-orang kafir dan mereka yang menyekutukan Allah.

***

Aduhai ternyata, kebersamaan Saya dengan beliau guru besar waktu itu cukup dengan enampuluh menit saja. Karena Saya harus menjemput kakak Saya tepat pukul 9 malam, sekalipun belum selesai taushiyah dari beliau. Berat hati Saya tinggalkan kajian kecil itu. Saya berharap masih ada kesempatan selanjutnya untuk bertemu lagi dengan beliau. Saya mulai menaiki motor, Saya lihat jam di handphone, dan.., Astaghfirullah…! Jam sembilan lebih! Saya terlambat jemput! Sesegera mungkin Saya harus sampai. Di jalanan Kota Jogja yang cukup padat itu, di bawah temaram lampu kota yang indah, langsung saja Saya kebut motor matic Saya hingga 90 km/jam. Satu demi satu motor Saya salip. Sesekali dua kali terpaksa harus Saya pencet tombol klakson, menghendaki supaya pengguna jalan lain di depan Saya memberikan kesempatan untuk Saya mendahului. Sedikit tak peduli, kembali Saya lesatkan motor setelah jalan di depan mulai terbuka. Alam yang dingin dan berdebu mulai Saya rasakan.

Biarlah, selama tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan yang lain, mengebut tidaklah mengapa. Toh hanya sesekali dan keadaannya memang mendesak. Tak pernah Saya duga, di tengah perjalanan Saya menjemput Sang Kakak waktu itu, muncullah seseorang dari belakang Saya –Saya melihatnya dari spion- yang juga memacu kendaraannya dengan sangat kencang. Wuuuusssss! Saya taksir mencapai lebih dari 90 km/jam. Saya tersalip begitu saja. Karena saat itu di depan sana Saya melihat rambu-rambu sedang bewarna merah, maka Saya mulai kurangi kecepatan dari jarak yang cukup berjarak dari rambu-rambu itu, maksud Saya untuk persiapan berhenti.

Akan tetapi pengendara ngebut tadi tetap saja full-speed dan baru berhenti mendadak di atas garis zebracross di bawah sang rambu-rambu. Tepat di sana, dengan pemberhentian yang sangat tiba-tiba. Maka suara gesekan keras antara ban motornya dengan aspal pun keluar begitu saja. Ciiiiittttt… Penasaran, para pengguna jalan lain pun ingin tahu dari mana sumbernya. Walah, anak muda yang suka kebut-kebutan ternyata… Mungkin begitu batin mereka. Dari sana Saya menemukan alibi. Walau ia tidak mengatakan apapun, seorang lelaki semacam dia, yang suka ngebut dan cenderung berpenampilan seperti preman, pasti tergoda jika melihat ada orang lain yang mengebut di hadapannya. Sejurus kemudian Saya menyadari, orang itu telah mengajak Saya balapan.

“Okey,” ucap Saya dalam hati. Saya terima tantangan itu. Tapi maaf kalau tidak bisa lama-lama melayani Anda. Kalau sudah sampai tempat di mana Saya harus menjemput kakak, Saya akan berhenti. Semoga Anda paham dengan maksud Saya ini. Setelah cahaya hijau rambu-rambu di hadapan Saya benar-benar menyala, Saya kembali menancapkan lagi gas motor Saya. Weesssss… 40, 50, 60, 70, 80, dan betul ia pun ikut menancapkan gas motornya. Di tengah sengitnya balapan amatir itu, Saya melihat bahwa ia menyempatkan diri untuk melihat siapa lawan balapannya ini dengan tatapan sinis, dan kemudian ia kebutkan lagi motornya. Semakin kencang, semakin tak terkendali. Alibi yang kedua ternyata bisa kembali Saya temukan. Bahwa selain ia memang menantang Saya untuk berbalap, dengan PDnya, rupanya ia ingin juga mengatakan pada Saya begini: ‘Beginilah cara pembalap terkenal itu beraksi’. Ia lihat Saya dan kemudian kembali memalingkan wajahnya memberikan arti seperti itu. Kini Saya rasakan ia benar-benar ingin meremehkan kemampuan Saya berbalap, mengertikah Anda Kawan? Tetapi Saya tak peduli. Benar-benar tidak peduli.

Nanti, sesudah Saya dan kakak Saya sampai di rumah, di kamar, Saya beristighfar pada Allah. Berulangkali Saya mohon maaf atas perbuatan Saya di jalanan tadi. Yang pertama sebab sudah mengebut kencang di jalanan yang padat –karena itu kemungkinan besar mengganggu orang lain, yang kedua karena mau melayani orang yang terlihat mabuk, dan yang ketiga karena sebetulnya Saya telah membahayakan keselamatan diri Saya sendiri. Selain itu Saya bersyukur, Allah tetap memberikan Saya keselamatan sehingga tetap dapat berkumpul dengan keluarga di rumah. I love you; my mom, my sister, and my brother…

Ditulis oleh: Yuries Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: