Tag Archives: pemuda
19 Mar

IMG-20150316-WA0000

Mari Hadiri Kajian dengan tema PEMUDA PEKA ZAMAN

bersama Ustadz Muhammad Fanni Rahman
(Ketua Sahabat Al-Aqsha, Ketua Relawan Masjid Indonesia, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, CEO Pro-U Media)

Sabtu, 21 Maret 2015

pukul 20.00 – selesai

di Masjid Sulthonain Nitikan

 

Advertisements

Qithmir; Anjing yang Dijanjikan Surga

20 Feb

Tercatat dalam sejarah memang, bahkan Allah abadikan dalam Al-Qur`an bagaimana tingkah ‘sepele’ yang dilakukan oleh seekor anjing di hadapan pintu gua yakni menjulurkan kedua kaki depannya. Allah abadikan dalam Surah Al-Kahfi (Gua) kisah seekor anjing yang menemani orang-orang shalih yang berusaha tetap memperjuangkan keimanannya dalam ketauhidan mereka kepada Allah.

“…sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka” (Al Kahfi:18)

***

Allah Ta’ala menceritakan tiga kisah sejarah dalam Surah Al-Kahfi, yaitu kisah Ashhabul Kahfi (Penghuni Gua), kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidhir, dan kisah Dzulqarnain. Kisah para pemuda yang berusaha menyelamatkan iman dan diri mereka dari kejaran seorang raja yang zhalim pada jaman itu sangat disorot hingga Allah abadikan menjadi nama surat tersebut.

Kisahnya bermula dari sebuah kerajaan yang rajanya tak pernah sakit 30 tahun lamanya. Dengan semerbak harum setiap sudutnya. Dari situlah muncul kesombongan sehingga ia merasa paling bersahaja dan juga paling mulia bahkan melebihi Rabb Semesta Alam.

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (Al Kahfi:13)

Ketika itu para pemuda yang beriman, Allah meneguhkan hati mereka. Di hadapan sang Raja Diqyanus yang zhalim itu mereka berkata sebagaimana dikisahkan dalam ayat berikutnya.

“…Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (Al Kahfi:14)

Saat itu, kaum mereka telah menjadikan selain Allah, tuhan-tuhan mereka. Akhirnya mereka pun berusaha menyelamatkan diri juga keimanan mereka. Pemuda-pemuda itu lari dari kerajaan yang begitu luas kemudian meninggalkan kerajaan itu dengan jarak yang begitu jauh, hingga pada suatu ketika bertemu dengan seorang penggembala dengan binatang gembalaannya. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?” “Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian!”

Mereka menjawab, “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?” “Ya,” jawab penggembala itu. Lalu para pemuda itu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, ia berkata, “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.” Para pemuda itupun berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing.

Karena sang penggembala bersama anjing, pada pemuda berusaha mengusirnya, namun anjing itu tetap mengikutinya. Sampailah kepada sebuah gua dan mereka mendiaminya.

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (Al Kahfi:9)

(Dalam ayat ini sebagian ahli tafsir menerjamaahkan raqim nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat)

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’” (Al Kahfi:10 )

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (Al-Kahfi:16)

Bahkan keadaan gua itupun Allah kisahkan dengan jelas dalam Al-Kahfi, dari dalam gua akan terlihat mentari terbit condong ke sebelah kanan dan terbenan ke sebelah kiri mereka. Adapun mereka, para pemuda berada di tempat yang luas dalam gua itu. Karena kelelahan mereka istirahat di dalam gua itu, lalu menutup telinga mereka Allah bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.

Menariknya adalah ketika mereka tidur, bagaimana tingkah ‘sepele’ yang dilakukan oleh seekor anjing yang bernama Qithmir di hadapan pintu gua yakni menjulurkan kedua kaki depannya.

“…sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka” (Al Kahfi:18)

Bahkan anjing yang kita anggap ‘hina’, karena ia berusaha melindungi para pemuda beriman dari kejaran raja yang zhalim itu Allah abadikan tingkah ‘sepele’ yang dilakukan Qithmir. So, kapan lagi kita terus meningkatkan iman kita kalau bukan saat ini?

Lalu Allah bangunkan mereka, maka mereka pun saling bertanya antara seberapa lama mereka tidur. Salah seorang diantara mereka berkata, “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Yang lain lagi berkata,”Tuhan kalian lebih mengetahui daripada kalian di sini”.

Karena mereka merasa lapar, maka salah seorang pemuda diantara mereka menggunakan pakaian milik sang penggembala membawa uang dirham ke kota untuk membeli makanan yang baik untuk mereka dengan merahasiakan perihal siapa dirinya. Namun ketika ia keluar dari gua, ia temui tulang belulang dari tunggangan mereka. Lebih terkejut lagi ketika ia sampai di kota keadaan yang begitu berbeda disbanding ketika ia meninggalkan kerajaan. Ketika ia membeli makanan sang penjual pun bingung terhadap pemuda itu karena uang yang pemuda itu bawa adalah uang jaman dahulu, ketika diperintah raja yang zhalim dan pada saat itu sudah berganti raja yang beriman. Ternyata tak hanya sehari mereka tidur selama di dalam gua, namun Allah menidurkan mereka selama 309 tahun.

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”(Al Kahfi:25)

Pada akhirnya ashhabul kahfi itu, menjadi pelajaran, betapa besarnya kekuasaan Allah. Allahu akbar.

***

“…

Disangka tidur hanya sehari

Rupanya tiga ratus sembilan tahun

Zaman bertukar beberapa kurun

Di bumi bersejarah urdu

 

Begitulah kuasa Ilahi

Kepada Ashhabul Kahfi

Tiada mustahil di dunia ini

Jika kita beriman dan bertaqwa

…”

Begitulah tim nasyid Raihan juga mengabadikan dalam albumnya. Semoga manfaat dan kita dapat mengambil ibrah dari kisahnya.

Muhammad Hasan Habib

Yogyakarta, 17 Februari 2015

Kajian2Pekanan #K2P Pemuda, Masjid, dan Peradaban Islam

10 Jan

Ayo mengaji kembali, teman-teman!

12jan13-sulthonain

Assalamu’alaikum kawan, ayo hadiri dengan mengajak teman-teman!

Kajian2Pekanan #K2P FSRMY

“Pemuda, Masjid, dan Peradaban Islam”

dengan pembicara  Ust Prof Muhammad, M.Ag
(ketua Dewan Masjid Indonesia DIY, pakar ekonomi syariah)

Sabtu 12 Januari 2013
pukul 20.00 WIB – selesai
di Masjid Sulthonain Nitikan Umbulharjo Jogja

Ayo datang bersama pasukan dari Masjid dan wilayahmu masing-masing!

CP 0857 2908 2978

wahai sahabat, pemuda begitu vital dalam membangun peradaban Islam, maka bergeraklah!

denah Masjid Sulthonain:
RS Jogja (Wirosaban) ke timur sekitar 300m sampai ada jalan (gang)  menyerong di kanan jalan (selatan) setelah “java laundry”, masuk ke gang tsb, kemudian ikuti “jalan Masjid Sulthonain.” Masjid berhalaman luas.

INGIN MASJIDMU NGUNDUH KAJIAN2PEKANAN FSRMY?

 

twitter: @fsrmy
facebook: FSRMY Remaja Masjid Yogyakarta
webblog: remajamasjidjogja.wordpress.com

Sebuah Catatan Minor: Memahami Kembali Langkah Pemuda Islam dalam Menghadapi Degradasi Akhlak-Moral

30 Jun

Oleh: Ahda Abid Al-Ghiffari[1]

Di negeri ini, sejarah yang ditulis penuh sesak dengan kehadiran pemuda. Dosen, guru, dan para pendidik jenis lain sering menggunakan kata “pemuda” sebagai alat untuk mengobarkan semangat mahasiswa atau siswanya. Kita rujuk dari mulai terbentuknya kesadaran nasional di Hindia Belanda hingga Reformasi yang spektakuler itu, mengapa identik dengan pemuda? Di Hindia Belanda awal abad 20 lahirnya nasionalisme diidentikkan dengan pemuda, hingga rentang masa menjelang itu, pemuda didengungkan terus berpartisipasi menegakkan “keadilan” menurut versi mereka. Proklamasi kemerdekaan masih tetap digemborkan dengan semangat pemuda yang menuntut golongan tua agar segera singgah ke pelaminan kemerdekaan. Melompat jauh pada tahun 1966 ketika rezim Orde Lama sudah tak sanggup mengatasi para pemuda yang terus mendesak “penyegaran” bagi kehidupan masyarakat dan bernegara. Kemudian rentang tiga puluh dua tahun post-desakan itu, “penyegaran” yang dituntut oleh pemuda Angkatan 66 itu dipertanyakan lagi oleh para pemuda angkatan Reformasi. Terus saja kita mempertanyakan, apa yang mereka perjuangkan? Nasionalisme? Demokrasi? Kesejahteraaan? Tema-tema tersebut umum menjadi bahan diskusi yang lama-lama mungkin membusuk dan tinggal menjadi obrolan mahasiswa di sore hari yang penuh dengan guyonan belaka.

Apa salah berkata demikian? Bagaimana jika kita mempertanyakan, “di mana peran pemuda Islam pada masa-masa spektakuler dalam sejarah Indonesia yang penuh dengan romantisisme tersebut?” Apakah nihil, atau memang dikebiri dan dihapuskan perannya dalam historiografi Indonesia? Meskipun, pada waktu-waktu tertentu mereka (pemuda Islam) muncul di tengah pertentangan strategis antara pemuda-pemuda yang berideologi (agama) lain. Ahmad Khudori dalam sebuah kajiannya pernah mengatakan, “… Salah Satu cara musuh-musuh Islam untuk memutuskan Umat Islam dengan agamanya adalah memutus hubungan pemuda-pemuda Islam dari sejarah Umat Islam pendahulunya….” Mungkinkah telah terjadi suatu startegi untuk melemahkan pemuda Islam? Belum lagi jika kita mempertanyakan perannya dalam pembinaan aqidah, akhlak, dan moral masyarakat, tempat ia berenang di lautan kesengsaran, kecurangan, dan konspirasi setan-setan politik. Jelas, pemuda Islam bukanlah pemuda sekuler yang hanya menuntut kemerdekaan, nasionalisme, demokrasi dan ideologi lain, yang seharusnya para pemuda Islam itu sadar bahwa perjuangan tentang nasionalisme, demokrasi dan segala tetek bengeknya itu hanyalah buatan manusia, tak pantas diperjuangkan, kalau tidak ingin dikatakan hanya nafsu manusia belaka. Bukan saatnya lagi berteriak-teriak untuk menyadarkan mereka yang tidak mengerti tentang sejarah keterlibatan pemuda Islam di masa-masa kenangan itu. Bukankah action itu lebih bermanfaat?

Pemuda Islam itu, bergerak melalui idealita yang digariskan oleh Allah melalui dua pusaka populer milik umat Islam: al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita tidak bisa memungkiri itu: bagaimana jadinya membicarakan pemuda Islam tapi lepas dari sudut pandang al-Qur’an dan as-Sunnah. Pemuda Islam dengan peranannya adalah sebuah integritas tiada habis, sebuah perenungan sepanjang zaman yang terus diperbincangkan. Kita kutip saja surat ali-Imraan ayat 104:

Allah Subahanahuwata’ala berfirman, yang artinya,

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf , dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Ayat tersebut sebenarnya merupakan “teori umum” atau pedoman yang populer bagi siapa saja yang ingin “menebarkan kebaikan.” Tak sulit mengatakan jika, tugas tersebut dilimpahkan pada segolongan kelompok yang paling banyak berada di masyarakat: Pemuda Islam! Maka, pemuda Islam adalah segolongan kelompok yang berada di masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang cukup beridealisme hanya dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi-nya, adapun nilai-nilai dan ilmu lain yang digunakan untuk mempertanyakan perannya adalah masalah metode, bukan metodologi. Sayyid Quthb pernah mengatakan:

Referensi utama yang diadopsi oleh generasi pelopor adalah al-Qur’an, hanya al-Qur’an semata… sabda-sabda dan petunjuk Rasulullah Saw merupakan satu dari beberapa konsekuensi yang bersumber dari al-Qur’an.[2]

Generasi pelopor yang dimaksud Sayyid Quthb adalah generasi sahabat ridwanullah ‘alaihim. Namun, bukankah tidak menutup kemungkinan, jika kita katakan bahwa ada generasi pelopor juga setelah generasi para sahabat tersebut, yaitu generasi pelopor yang meniru generasi sahabat?  

 

Pemuda dan Degradasi Moral: Revitalisasi Dakwah Aqidah Islam!

Sejarawan membagi periode perjuangan Nabi Muhammad dalam dua tempat penting di Arab: Makkah dan Madinah. Makkah adalah tempat Nabi Muhammad menyeru tauhid dan membangun aqidah sahabat-sahabatnya ketika pertama kali masuk Islam. sedangkan periode Madinah adalah tempat Nabi Muhammad membangun kekuatan, syari’at dan akhlak bagi umatnya. Ada satu cerita menarik yang di dapat dari periode Madinah tersebut. Suatu ketika, Nabi Muhammad tengah menemui para sahabatnya yang sedang berada di dalam sebuah kedai minuman. Para Sahabat tersebut sedang mabuk keras karena khamr yang dipesan mereka. Singkat kisah, Nabi Muhammad membacakan suatu ayat tentang larangan meminum khamr di depan para sahabatnya itu. Serentak setelah ayat tersebut dibacakan, para Sahabat nabi yang sedang mabuk tersebut lantas membuang khamr yang di pesannya, begitu pila dengan pemilik kedai minuman tersebut. Mereka sama-sama membuang khamr tersebut tanpa pandang bulu atau berikap eman-eman.

Demikian iman dan tauhid yang begitu kuat melekat di dalam dada para Sahabat tersebut. Iman dan tauhid tersebut adalah hasil binaan Nabi Muhammad pada periode Makkah. Begitu taatnya mereka kepada Allah dan Rasul-Nya: Sahabat dengan begitu saja, tanpa pikir panjang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya tersebut. Aqidah adalah hal pertama yang dibina Nabi Muhammad Saw ketika menyampaikan risalah kenabiannya. Pada Periode Makkah, kerusakan akhlak dan moral sedang terjadi di tengah tatanan masyarakat Arab yang tradisional ortodoks. Terjadi sebuah konsekuen yang logis ketika tatanan mayarakat yang tradisional ortodoks hasil buatan manusia tersebut mengakibatkan kerusakan moral. Tak perlu penulis gambarkan kerusakan moral tersebut, karena terlalu banyak buku sejarah Islam yang menggambarkannya.

Di tengah kerusakan akhlak dan moral tersebut, ada juga sekelompok masyarakat yang masih ingin memperbaiki akhlak masyarakat Arab, namun kita tidak bisa memungkiri, karena pada gilirannya, sekelompok masyarakat tersebut, walaupun ingin memperbaiki kondisi moral masyarakat, namun juga masih melakukan peribadatan yang salah, atau masih terdapat peribadatan yang hanya meniru nenek moyang mereka: penyembahan terhadap berhala dan sejenisnya menjadi suatu hal yang biasa. Seaindainya Rasulullah pada awal perjuangannya berjuang untuk mengatasi degradasi ahklak-moral, Pan-Arabisme, dan pemberontakan melawan Romawi dan Persia (hal-hal lain yang dihadapi bangsa Arab), maka dakwahnya akan sangat diterima, bahkan didukung karena ia tidak akan menyinggung masalah-masalah peribadatan jahiliah. Sebaliknya, fakta sejarah yang ada, beliau terlebih dahulu menegaskan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan lain yang patut disembah kecuali Allah) sebelum mengatasi masyarakat Arab yang rusak karena tatanan jahiliah hasil tradisi manusia itu.

Bandingkan dengan sekarang, terlalu banyak orang yang menyeru terhadap perbaikan moral, bahkan ada banyak juga yang bersembunyi di balik slogan pendidikan karakter, sebagai upaya membentuk masyarakat yang bermoral. Namun, kita juga tidak dapat memungkiri, orang-orang yang menyeru tentang perbaikan moral tersebut adalah orang Islam yang “tak sadar dien Islam.” Mereka ingin memperbaiki moral masyarakat dengan alternatif dan slogan-slogan lain, selain Islam, meskipun, sekali lagi, kebanyakan dari mereka adalah muslim. Bukannya ingin membicarakan masyarakat yang sekuleristik, namun konsekuensinya tetap saja mengacu pada hal tersebut. Masyarakat yang sekuleristik tidak akan mengacu pada tindakan-tindakan non-relijius untuk mengatasi persoalan-persoalan duniawi yang menurut mereka hanya bisa diselesaikan dengan solusi-solusi duniawi pula.[3] Akankah kita termasuk golongan yang seperti itu?

Inilah suatu awal untuk mempertanyakan peran pemuda Islam dalam membendung degradasi moral. Pemuda Islam tidak hanya akan menyeru pada hal-hal yang frontal untuk mengatasi degradasi moral. Lebih dari itu, memahamkan kepada pelaku degradasi moral tentang “mengapa mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang mengakibatkan kerusakan akhlak-moral,” melalui pemahaman dien Islam lebih penting dibanding terus-menerus secara teratur meneriakkan “berantas kemaksiatan,” meskipun hal tersebut juga perlu dilakukan sebagai nahi mungkar ketika kondisi masyarakat sudah tidak bisa diajak “berkompromi” lagi. Maka di sinilah perlunya untuk memulai gerakan pembendungan degradasi moral tersebut melalui pemahaman aqidah Islam yang benar menurut tradisi pemikiran ahlus sunnah wal jamaah. Dengan kata lain, pemuda Islam itu bukan hanya sekelompok insan yang meneriakkan slogan-slogan “pembendungan degradasi moral”, namun pemuda harus lebih dalam tenggelam pada perjuangan aqidah Islam sebagai cara yang prinsipil untuk menangani masalah kerusakan moral, atau setidaknya, ia sadar bahwa berteriak tentang “penegakkan Islam” di bumi adalah lebih penting, dibanding jika hanya berteriak “marilah kawan-kawan, kita perkuat national character building kita dengan semangat nasionalisme!!” yang nampak emosional, persuasif dan retorik namun terefleksikan dengan omong kosong belaka.

Apa yang harus dilakukan pemuda Islam? Dari penjelasan di atas, telah jelas bahwa poin terpenting dan utama yang harus diperbuat untuk memposisikan diri di tengah masyarakat yang sebagian besar collapse akhlaknya adalah dakwah aqidah. Inilah yang dicontohkan Rasulullah dalam membina ummat-nya, dan inilah yang harus diamalkan pemuda Islam. Mereka yang memiliki visi mengadopsi dan belajar dari sejarah kenabian untuk dijadikan pedoman langkah-langkahnya di zaman ini, maka tidak berlebihan jika kita mengatakan pemuda Islam adalah golongan yang sadar sejarah. Secara aplikatif, pemuda Islam adalah bagian yang unggul dan produktif secara usia. Mereka adalah golongan yang relatif mampu menghidupkan pengajian-pengajian aqidah dalam masyarakat. Ini tidak mudah, tantangan selalu dihadapi, karena dakwah aqidah yang sesungguhnya pasti akan bertentangan dengan “apa yang diyakini masyarakat.” Berkaitan dengan ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menuturkan:

Rasulullah Saw adalah suri teladan yang baik dalam memberikan jalan keluar bagi semua problem umat Islam di dunia modern sekarang ini pada setiap waktu dan kondisi. Hal ini yang mengharuskan kita memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Nabi kita, yaitu pertama-tama memperbaiki apa-apa yang telah rusak dari aqidah kaum muslimin. Dan yang kedua adalah ibadah mereka. Serta yang ketiga adalah akhlak mereka…. sesungguhnya urusannya tidaklah mudah sebagaimana yang disangka oleh sebagian mereka… dan di antara mayoritas kaum muslimin pada masa ini yang mengucapkan kalimat [thayyibah] (laa ilaaha illallah –pen) tetapi tidak memahami maknanya secara benar.[4]

Demikian, sudah saatnya, pemuda Islam memberi perhatian lebih terhadap dakwah aqidah ini jika menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang unggul akhlaknya, atau dalam bahasa yang populer “masyarakat yang berakhlak mulia.” Sebuah masyarakat yang didiami oleh pemuda Islam, sebagai “elemen tengah” telah memiliki sebuah kunci untuk membentangkan sebuah peradaban. Maka tidak heran jika Rasulullah Saw menyebut Ali bin Abi Tholib, seorang pemuda cerdas saat itu yang menjadi salah satu Khulafaur Rasyidin yang terkenal  itu, sebagai “kuncinya ilmu.” Kembali kita bertanya, adakah suatu peradaban yang unggul akhlak-moralnya tanpa disertai pemuda dan aqidah Islam yang kuat? Tidak terlalu berlebihan jika kita mengatakan, sepertinya mustahil mengawang-awang atau membolak-balik buku sejarah untuk menemukan sebuah peradaban yang lebih baik akhlak dan moralnya tanpa disertai dengan aqidah Islam yang mapan. Wallahu’alam bishawab.[]

 

Referensi

Al-Qur’an Al-Karim

Sayyid Quthb, 2009, Ma’alim Fi Ath-Thariq, a.b. Mahmud Harun Muchtarom, Yogyakarta: Uswah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, 2001, “At-Tauhid Awwalan Ya Du’atsal Islam”, a.b. Fariq Gasim Anuz, Tauhid: Prioritas Pertama dan Utama, Jakarta: Darul Haq.

Thohir Luth, 2005 (cetakan kedua), M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya, Jakarta: Gema Insani.


[1] Peserta Islamic Article Competition (IAC), Mahasiswa UNY jurusan Pendidikan Sejarah (2009) NIM: 09406241042, pemerhati dunia dakwah, aktifis dan pegiat kegiatan dakwah remaja masjid.

[2] Sayyid Quthb, 2009, Ma’alim Fi Ath-Thariq, a.b. Mahmud Harun Muchtarom, Yogyakarta: Uswah, hlm. 34.

[3] Sekuleristik, atau sekulerisme secara umum merupakan salah satu “virus” yang menyerang Islam (secara historis maupun normatif) yang hakikatnya, semua muslim sejati “berhak” melindungi dirinya dari virus ini. Seluruh ulama Islam yang tahu tentang paham pemisahan agama dengan urusan-urusan publik ini, sadar tentang bahayanya yang terus menggerogoti Islam. M. Natsir (dan kawan-kawannya), seorang ulama dan politikus pada masa Orde Lama, telah menyadari tentang sekulerisme tersebut, di saat kebanyakan ulama ortodoks masih belum sadar terhadap paham ini. Padahal paham ini sudah dihembuskan sejak kolonialisme modern bercokol di negeri-negeri Timur. Lihat Thohir Luth, 2005 (cetakan kedua), M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya, Jakarta: Gema Insani, hlm. 115.

[4] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, 2001, “At-Tauhid Awwalan Ya Du’atsal Islam”, a.b. Fariq Gasim Anuz, Tauhid: Prioritas Pertama dan Utama, Jakarta: Darul Haq, hlm. 9 dan 32.