Qithmir; Anjing yang Dijanjikan Surga

20 Feb

Tercatat dalam sejarah memang, bahkan Allah abadikan dalam Al-Qur`an bagaimana tingkah ‘sepele’ yang dilakukan oleh seekor anjing di hadapan pintu gua yakni menjulurkan kedua kaki depannya. Allah abadikan dalam Surah Al-Kahfi (Gua) kisah seekor anjing yang menemani orang-orang shalih yang berusaha tetap memperjuangkan keimanannya dalam ketauhidan mereka kepada Allah.

“…sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka” (Al Kahfi:18)

***

Allah Ta’ala menceritakan tiga kisah sejarah dalam Surah Al-Kahfi, yaitu kisah Ashhabul Kahfi (Penghuni Gua), kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidhir, dan kisah Dzulqarnain. Kisah para pemuda yang berusaha menyelamatkan iman dan diri mereka dari kejaran seorang raja yang zhalim pada jaman itu sangat disorot hingga Allah abadikan menjadi nama surat tersebut.

Kisahnya bermula dari sebuah kerajaan yang rajanya tak pernah sakit 30 tahun lamanya. Dengan semerbak harum setiap sudutnya. Dari situlah muncul kesombongan sehingga ia merasa paling bersahaja dan juga paling mulia bahkan melebihi Rabb Semesta Alam.

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (Al Kahfi:13)

Ketika itu para pemuda yang beriman, Allah meneguhkan hati mereka. Di hadapan sang Raja Diqyanus yang zhalim itu mereka berkata sebagaimana dikisahkan dalam ayat berikutnya.

“…Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (Al Kahfi:14)

Saat itu, kaum mereka telah menjadikan selain Allah, tuhan-tuhan mereka. Akhirnya mereka pun berusaha menyelamatkan diri juga keimanan mereka. Pemuda-pemuda itu lari dari kerajaan yang begitu luas kemudian meninggalkan kerajaan itu dengan jarak yang begitu jauh, hingga pada suatu ketika bertemu dengan seorang penggembala dengan binatang gembalaannya. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?” “Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian!”

Mereka menjawab, “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?” “Ya,” jawab penggembala itu. Lalu para pemuda itu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, ia berkata, “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.” Para pemuda itupun berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing.

Karena sang penggembala bersama anjing, pada pemuda berusaha mengusirnya, namun anjing itu tetap mengikutinya. Sampailah kepada sebuah gua dan mereka mendiaminya.

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (Al Kahfi:9)

(Dalam ayat ini sebagian ahli tafsir menerjamaahkan raqim nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat)

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’” (Al Kahfi:10 )

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (Al-Kahfi:16)

Bahkan keadaan gua itupun Allah kisahkan dengan jelas dalam Al-Kahfi, dari dalam gua akan terlihat mentari terbit condong ke sebelah kanan dan terbenan ke sebelah kiri mereka. Adapun mereka, para pemuda berada di tempat yang luas dalam gua itu. Karena kelelahan mereka istirahat di dalam gua itu, lalu menutup telinga mereka Allah bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.

Menariknya adalah ketika mereka tidur, bagaimana tingkah ‘sepele’ yang dilakukan oleh seekor anjing yang bernama Qithmir di hadapan pintu gua yakni menjulurkan kedua kaki depannya.

“…sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka” (Al Kahfi:18)

Bahkan anjing yang kita anggap ‘hina’, karena ia berusaha melindungi para pemuda beriman dari kejaran raja yang zhalim itu Allah abadikan tingkah ‘sepele’ yang dilakukan Qithmir. So, kapan lagi kita terus meningkatkan iman kita kalau bukan saat ini?

Lalu Allah bangunkan mereka, maka mereka pun saling bertanya antara seberapa lama mereka tidur. Salah seorang diantara mereka berkata, “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Yang lain lagi berkata,”Tuhan kalian lebih mengetahui daripada kalian di sini”.

Karena mereka merasa lapar, maka salah seorang pemuda diantara mereka menggunakan pakaian milik sang penggembala membawa uang dirham ke kota untuk membeli makanan yang baik untuk mereka dengan merahasiakan perihal siapa dirinya. Namun ketika ia keluar dari gua, ia temui tulang belulang dari tunggangan mereka. Lebih terkejut lagi ketika ia sampai di kota keadaan yang begitu berbeda disbanding ketika ia meninggalkan kerajaan. Ketika ia membeli makanan sang penjual pun bingung terhadap pemuda itu karena uang yang pemuda itu bawa adalah uang jaman dahulu, ketika diperintah raja yang zhalim dan pada saat itu sudah berganti raja yang beriman. Ternyata tak hanya sehari mereka tidur selama di dalam gua, namun Allah menidurkan mereka selama 309 tahun.

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”(Al Kahfi:25)

Pada akhirnya ashhabul kahfi itu, menjadi pelajaran, betapa besarnya kekuasaan Allah. Allahu akbar.

***

“…

Disangka tidur hanya sehari

Rupanya tiga ratus sembilan tahun

Zaman bertukar beberapa kurun

Di bumi bersejarah urdu

 

Begitulah kuasa Ilahi

Kepada Ashhabul Kahfi

Tiada mustahil di dunia ini

Jika kita beriman dan bertaqwa

…”

Begitulah tim nasyid Raihan juga mengabadikan dalam albumnya. Semoga manfaat dan kita dapat mengambil ibrah dari kisahnya.

Muhammad Hasan Habib

Yogyakarta, 17 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: