Seni Menata Hati – Resume Kajian2Pekanan

11 Jan

Alhamdulillah, Sabtu tadi malam terlaksana Kajian 2 Pekanan perdana di tahun 2015. Kajian bertema “Seni Menata Hati; Cerdas Mengelola Hati, Raih Kebahagiaan Hakiki” dengan pembicara Ustadz Syatori Abdurrauf. Ini nih poster kajiannya -yang kemaren belum sempet diunggah di sini-:

poster K2P - Seni Menata Hati jpgBersyukur sekali kajian ini dipadati hadirin, hingga ruang utama, serambi utara, timur, maupun selatan penuh. Kajian dimulai pukul 20.08 WIB dan berakhir pada pukul 21.55 WIB, kemudian makan -sego macan- bersama.

Seperti ujar Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Maka kami mencoba untuk membuat resume materi kajian yang disampaikan oleh Ustadz Syatori tadi malam. Agar lebih banyak orang mendapatkan ilmu dan hikmahnya.

Berikut materi yang disampaikan Ustadz Syatori yang berhasil menohok dan mencabik hati para hadirin, sehingga membuat berucap,”Ahh, surga masih jauh..”

Seni Menata Hati; Cerdas Mengelola Hati, Raih Kebahagian Hakiki
Ustadz Syatori Abdurrauf
Sabtu 10 Januari 2015
Kajian 2 Pekanan FSRMY
di Masjid Jogokariyan

Hidup berarti mengarungi kehidupan dengan tujuan akhir surga.

Bahagia hakiki itu yang bagaimana? Apakah punya uang banyak itu bahagia? Apakah bagi wanita, kecantikan itu bahagia? Padahal, kira-kira karena kecantikan itu, banyak yang masuk surga atau neraka? Apakah orang yang begitu suka tilawah Al-Quran, setiap selesai satu lembar merasa nikmat, lalu tambah lagi, itu bahagia? Ya, itu salah satu bahagia hakiki.

Setiap langkah kita yang merindu dan menuju surga itulah bahagia hakiki.

Ada tiga (3) langkah menuju surga:

1. Menemukan jalannya

2. Menjalani jalannya

3. Menikmati jalannya

Menemukan jalan menuju surga dengan akal (‘aqlun), menjalani jalan menuju surga dengan hati (qalbun), dan menikmati jalan menuju surga dengan jiwa (nafsun). Ketiga hal tersebut -akal, hati, jiwa- telah Allah fasilitasi pada diri kita, tinggal mau digunakan atau tidak.

Manusia punya akal, tetapi tidak dipakai dengan baik itu pasti karena kurangnya ilmu. Manusia punya hati, tetapi tidak dipakai itu karena banyaknya dosa. Manusia punya jiwa, tetapi tidak dipakai karena (terlalu) cinta dunia.

Tugas kita adalah menjadikan akal yang mustaqim, agar dapat menemukan jalan yang benar. Menjadikan hati yang selamat (qalbun salimun), agar dapat menjalani dengan baik. Menjadikan jiwa yang muthmainnah, agar dapat menikmati dengan mulia.

Benar – Baik – Mulia; Agar bisa sampai ke surga membutuhkan ketiga hal ini.

Benar maksudnya adalah sesuai dengan hukum Allah. Agar tahu hukum Allah diperlukan ‘ilmu Allah. Mengetahui arah dan paham rambunya; mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah. Perlu dipahami bahwa rambu ada dua macam, yaitu hissiy dan ma’nawiy. Hissiy adalah rambu yang bisa dipahami secara inderawi, sementara ma’nawiy adalah rambu yang perlu pengertian dan pemaknaan dalam pelaksanaannya.

Baik yaitu bermanfaat bagi orang banyak. Diperlukan tazkiyah; terus-menerus taubat dan melakukan perbaikan agar memahami kehendak Allah.

Sementara mulia adalah ikhlas semata karena akhirat, karena Allah. Diperlukan Ar-Riyadhah; prihatin dalam urusan dunia, tetapi tidak dalam urusan akhirat.

Terakhir, kata-kata Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah perlu kita renungi dan amalkan,”Menjadikan dunia sebagai sarana untuk merengkuh kemuliaan akhirat.”

Wallahu a’lam.

Maafkan jika resume ini masih jauh dari ilmu yang seharusnya dapat diikat. Semoga bermanfaat.

Silakan download rekaman audio-nya; klik ini atau klik ini

atau download kajian lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: